Kopi dan Bait-Bait Sajak: Menikmati Kehidupan Sambil Merenung dan Tersenyum

Kopi dan puisi, dua elemen yang sering kali menjadi teman setia di saat-saat refleksi. Dalam puisi "Kopi dan Bait-Bait Sajak" karya Titto Telaumbanua ini, kita diajak merenungi kehidupan sambil menyeruput secangkir kopi. Tapi siapa bilang momen ini tidak bisa disertai dengan sedikit humor? Yuk, kita lihat sisi komedi dari puisi ini yang dijamin bikin kita senyum-senyum sendiri.


"Selagi menanti waktu yang sekilas," bayangkan Anda sedang duduk di kafe sambil menunggu pesanan datang. Tetapi, yang datang lebih dulu justru pesan dari group chat keluarga yang mengajak reuni di akhir pekan. Waktu memang terasa sekilas saat kita mencoba membalas semua pesan dengan emoji yang tepat.


"Secangkir kopi sederhana kuminta bercerita," adalah momen di mana Anda berharap kopi bisa bicara dan memberi nasihat bijak. Tapi kenyataannya, Anda hanya bisa menatap kosong ke dalam cangkir sambil berpikir, "Kalau kopi bisa bicara, kira-kira dia akan ngomong apa ya?"


"Dengan menata bait-bait sajak, ku seruput di setiap lariknya," ini seperti momen ketika Anda mencoba menjadi penyair dadakan. Ternyata, yang keluar adalah tulisan tentang antrian di toilet kafe yang panjang. Ah, inspirasi memang bisa datang dari mana saja!


"Rasa pahit yang bercumbu bersama kata-kata," bayangkan saat Anda mencoba menulis puisi sambil menyesap kopi pahit tanpa gula. Setiap tegukan seperti menyadarkan Anda bahwa tidak semua hal manis dalam hidup, tapi pahit juga punya pesonanya. Yah, setidaknya itulah yang selalu kita katakan untuk menghibur diri.


"Berpadu imajinasi pada sudut cangkir," adalah momen ketika Anda menatap dalam cangkir kosong dan merasa seperti melihat ke masa depan. Bayangan air kopi yang menetes pelan-pelan menginspirasi tulisan tentang harapan, atau mungkin hanya mengingatkan bahwa sudah saatnya refill.


"Mengiringi sejumlah narasi dan senyum di setiap pekat aromanya," adalah saat di mana Anda tertawa sendiri karena ide-ide konyol yang tiba-tiba muncul. Seperti bayangan menjadi detektif kopi yang memecahkan misteri siapa yang mengambil sendok terakhir di dapur.


"Dia masih setia dengan hangatnya yang masih bertahan," saat Anda sadar bahwa kopi adalah teman setia yang selalu ada di setiap situasi. Bahkan saat listrik padam dan Anda menemukan kenyamanan di secangkir kopi instan.


"Berakhir pada tegukan yang tinggal ampas," adalah momen perpisahan yang selalu sulit, tapi kita tahu itu akan datang. Seperti perpisahan dengan hari libur yang berakhir di Minggu malam. Sampai jumpa, wahai kopi dan bait-bait sajak!


Kopi dan Bait-Bait Sajak

Karya: Titto Telaumbanua


Selagi menanti waktu yang sekilas

Secangkir kopi sederhana kuminta bercerita

Dengan menata bait-bait sajak

Ku seruput di setiap lariknya


Rasa pahit yang bercumbu bersama kata-kata

Berpadu imajinasi pada sudut cangkir

Mengiringi sejumlah narasi

Dan senyum di setiap pekat aromanya


Aku bercengkrama padanya

Mengulik kisah-kisah yang layak kuceritakan

Dia masih setia dengan hangatnya yang masih bertahan

Sungguh sahabat paling pengertian


Berakhir pada tegukan yang tinggal ampas

Rampung juga susunan bait-bait sajak

Waktu yang dinanti tiba

Sampai di sini, sampai jumpa...


***


Silahkan menonton video musikalisasi dari puisi "Kopi dan Bait-Bait Sajak".



No comments:

Post a Comment

Mungkin Kamu Suka

Patah Hati dalam Rangkaian Kata: "Patah Hati Yang Kau Berikan"

Selamat datang para pembaca setia, Kali ini, mari kita tertawa sedikit meskipun membahas sesuatu yang serius. Kita akan membahas puisi yan...